Select Page

Dalam cuplikan sebuah film luar negeri, ada seorang laki laki petugas kebakaran hutan yang harus berhari hari memadamkan api di tengah hutan dengan alat yang sangat terbatas. Ia harus berlari kencang melawan angin yang terus membuat api semakin berkobar, untuk mengambil setumpuk pasir dan karung agar api tidak meluas. Tidak cukup dengan hal itu, Ia pun harus menebang banyak pohon besar di tengah panas yang amat sangat mengepungnya. Kaki dan tangannya terluka, sementara persediaan air minum yang dimiliki telah habis. Ia pun mulai kehabisan nafas dan sesak karena asap tebal yang menyelimutinya. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti memadamkan api. Segala hal yang ditemuinya, dipergunakan agar api bisa padam.

Mungkin kita bisa mengatakan. Ah.. itu hanya sebuah film, imajinasi. Tidak nyata. Sebagai informasi, film tersebut di ambil dari kisah nyata seorang petugas pemadam kebakaran hutan yang telah menyelamatkan ratusan nyawa manusia dan hewan yang berada di sekitar hutan tersebut.

Baiklah, mari kita lihat pengalaman pribadi kita, yang mungkin tidak terlalu heroic, tapi lebih kurang sama. Misalnya,  seseorang harus menembus malam  di tengah cuaca hujan deras, dingin, gelap di sekitarnya,  untuk meminta pertolongan karena banjir yang masuk ke dalam rumah dimana anaknya yang masih sangat kecil dan istrinya berada di dalam rumah. Atau, korban yang berhasil menyelamatkan diri saat tsunami tahun lalu. Meski ia terlempar terhempas berkali kali di bawah beton besar  mengenai kepala dan tubuhnya, meminum air laut, dalam kegelapan, tanpa pertolongan siapapun, namun tetap optimis meraih kehidupan.

Kadang, kita berada pada situasi-situasi tertentu yang mengharuskan kita melakukan hal hal maksimal bahkan cenderung ekstrim yang bisa jadi selama ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kira kira, apa yang di rasakan setelah melakukan atau mengalami hal yang mengharuskan kita mengeluarkan  segenap energy yang mungkin selama ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya, atau sering di sebut last effort.

Sebenarnya, manusia dikaruniai Tuhan kemampuan tidak terbatas. Namun, karena selama ini manusia  beranggapan kemampuannya  terbatas, atau yang dalam istilah psikologi di sebut determinisme disebabkan kondisi genetic, penyakit, difabilitas dan ketidaksempurnaan lainnya, menyebabkan manusia menyakini memang dirinya hanya mampu melakukan hal hal biasa-biasa saja.  Sigmund Frued, ahli psikologi mengemukakan, manusia dikuasai oleh ketidaksadarannya. Dan di alam ketidaksadaran tersebut, manusia merasa kemampuan dirinya sangat terbatas.

Pandangan inilah yang keliru dan membahayakan. Dunia kini telah berubah, muncul banyak hal di luar dari perkiraan manusia. Yang biasa-biasa saja makin kecil dan digantikan dengan luar biasa.

Maka, apa yang harus dilakukan?

Frued mengatakan, apabila manusia mau, ia bisa mengakses aspek ketidaksadaran tersebut dan mengangkatnya ke alam kesadaran. Artinya, manusia dapat memilih untuk berbuat sesuatu, dan mampu mengeluarkan sesuatu yang sangat potensial dan sangat dahsyat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bagaimana caranya untuk break the limit?

Selain berada dalam kondisi yang tidak direkayasa sebelumnya seperti yang sudah dibicarakan di bagian atas seperti terjebak dalam banjir, dalam tsunami, kebakaran hutan dan lainnya, break the limit juga bisa dihasilkan dari sebuah kegiatan yang menstimuli seseorang melalui experiential learning berbentuk games, diskusi, kegiatan, project , sehingga muncul keyakinan baru bahwa ia bisa, mampu dan memiliki kesempatan melakukan banyak hal yang jauh lebih bermakna,lebih besar dan mendalam.

Segera hancurkan tembok keterbatasan itu!  Untuk mencapai sukses besar.
Salam Inspirasi